Harga cabai merah rata-rata nasional Rp59.900 per kg pada 8 September 2026 — naik 6,8% dibanding sepekan lalu (1 September 2026), dan naik 19,9% dibanding sebulan lalu (10 Agustus 2026). Angka ini kami tarik langsung dari pantauan PIHPS Bank Indonesia di pasar tradisional, dan diperbarui setiap hari.
| Keterangan | Harga | Catatan |
|---|---|---|
| Harga rata-rata nasional | Rp59.900/kg | 8 September 2026 |
| Sepekan lalu (1 September 2026) | Rp56.100/kg | naik 6,8% |
| Sebulan lalu (10 Agustus 2026) | Rp49.950/kg | naik 19,9% |
| Termurah: Jawa Timur | Rp26.000/kg | provinsi |
| Termurah: Nusa Tenggara Barat | Rp29.400/kg | provinsi |
| Termahal: Maluku Utara | Rp112.500/kg | provinsi |
| Termahal: Maluku | Rp101.250/kg | provinsi |
Sumber: PIHPS Bank Indonesia (pasar tradisional), 8 September 2026. Pantauan kami mencakup 34 provinsi, 110 kota/kabupaten, dan 207 pasar.
Itu harga nasional hari ini. Artinya, modal kulakan kamu bakal lebih tinggi daripada sebulan lalu. Kalau minggu lalu beli, stok yang laku kemarin mungkin masih pakai harga lama, jadi masih ada margin. Tapi buat yang mau isi ulang hari ini, duit di kasir harus lebih besar buat dapetin kilo yang sama. Kalau kamu jualan di Maluku, ya udah pasti modalnya jauh lebih gede. Yang penting, kamu tau posisi dagangan kamu: lagi naik, dan itu pengaruh langsung ke cara kamu beli dan jual.
Nah, sebagai pedagang, kita lihat lapangan. Pertama, soal panen dan cuaca. Kabar kemarau yang bikin gagal panen itu nyata bawa efek. Pasokan dari petani berkurang, otomatis harga di tingkat grosir naik. Ini yang kita rasakan sebagai pengecer. Kedua, soal distribusi dan ongkos. Cabai itu barang cepat rusak. Saat pasokan lokal sepi, kita bergantung pasokan dari daerah lain. Ongkos kirim dan risiko busuk di perjalanan itu semua akhirnya nambah di harga kulakan kita. Jadi, naiknya harga itu gabungan dari kurangnya barang di sumber dan mahalnya biaya bawa barang ke warung kita.
Ini trik sederhana: bandingkan harga kulakan di kota kamu dengan angka nasional tadi. Kalau harga cabai merah di tempat kamu hari ini masih **di bawah** angka nasional, itu sinyal untuk segera kulakan. Kenapa? Karena kemungkinan besar harga di daerah kamu belum terdorong naik sepenuhnya, dan kamu bisa beli dengan harga yang relatif lebih murah sebelum ikut naik menyusul. Sebaliknya, kalau harga di tempat kamu udah **di atas** angka nasional, artinya kenaikan udah terjadi di lapak kamu. Dalam kondisi kayak gini, lebih baik tahan dulu belanja besar-besaran atau coba cari info kulakan dari daerah lain yang harganya lebih bersahabat.
Nah, kalau kamu punya akses atau jaringan buat kulakan antar daerah, perhatikan angka provinsi termurah. Ini jadi petunjuk arah. Kalau pasokan di daerah kamu langka dan mahal, dan kamu punya modal dan logistik memadai, bisa pertimbangkan cari sumber dari daerah-daerah dengan harga dasar lebih rendah. Tapi ingat, ini bukan jaminan murah total. Kamu harus hitung ulang semua biaya tambahan: ongkir, packing, risiko rusak, dan waktu. Jadi, angka provinsi termurah itu panduan awal buat kamu buka peluang, bukan perintah beli.
Yang paling penting: dagangan harus jalan, untung harus ada. Pertama, pantau harga harian. Jangan sampai kamu jual dengan harga kulakan seminggu yang lalu padahal harga pasaran udah naik; kamu bisa rugi. Kedua, jangan over-stok. Cabai merah dan rawit itu cepat busuk, apalagi kalau harganya tinggi. Beli secukupnya, yang bisa laku cepat, biar modal muter dan kamu terhindar dari kerugian karena barang rusak. Ketiga, ambil untung yang wajar. Jangan serakah, tapi juga jangan terlalu tipis. Hitung biaya operasional warung kamu. Yang penting, konsumen tetap beli karena percaya, dan kamu dapat profit yang cukup buat terus nyetok barang lain.
Harga gerak tiap hari dan beda tiap daerah — selisih sedikit bisa jadi untung-rugi buat yang jualan. Cek harga cabai merah hari ini per provinsi: kalau di daerahmu di bawah rata-rata nasional, itu sinyal kulakan. Bandingkan harga antar kota buat cari stok termurah, atau pantau pasar induk.
Pemberitaan media nasional yang kami rujuk untuk konteks di atas (tautan via Google Berita):
Kulakan pas pagi hari sebelum jam 10, karena pasokan masih segar dan perbandingan harga dari banyak supplier bisa jelas.
Stok biasanya lebih murah langsung dari sentra produksi seperti di dataran tinggi Jawa Barat atau Sumatra Utara, daripada beli di pasar induk ibu kota.
Fokus pada beli saat harga turun sedikit dan jual cepat, kurangi kerusakan dengan penyimpanan kering serta hindari menumpuk stok terlalu lama.
Perbedaan disebabkan biaya transportasi, ketersediaan stok lokal, dan tingkat permintaan di tiap pasar yang tidak sama.
Tandanya bisa dari cuaca buruk di sentra panen, laporan gagal panen, atau lonjakan permintaan saat hari besar keagamaan.
Pantau melalui grup WhatsApp sesama pedagang, cek update harga dari pasar induk secara online, atau lihat informasi harga grosir seperti Rp59.900 per kg sebagai patokan.