Harga cabai rawit rata-rata nasional Rp79.700 per kg pada 8 September 2026 — naik 8,4% dibanding sepekan lalu (1 September 2026), dan naik 37,1% dibanding sebulan lalu (10 Agustus 2026). Angka ini kami tarik langsung dari pantauan PIHPS Bank Indonesia di pasar tradisional, dan diperbarui setiap hari.
| Keterangan | Harga | Catatan |
|---|---|---|
| Harga rata-rata nasional | Rp79.700/kg | 8 September 2026 |
| Sepekan lalu (1 September 2026) | Rp73.500/kg | naik 8,4% |
| Sebulan lalu (10 Agustus 2026) | Rp58.150/kg | naik 37,1% |
| Termurah: Jawa Timur | Rp51.050/kg | provinsi |
| Termurah: Nusa Tenggara Barat | Rp51.100/kg | provinsi |
| Termahal: Sulawesi Utara | Rp151.250/kg | provinsi |
| Termahal: Maluku Utara | Rp151.250/kg | provinsi |
Sumber: PIHPS Bank Indonesia (pasar tradisional), 8 September 2026. Pantauan kami mencakup 34 provinsi, 110 kota/kabupaten, dan 207 pasar.
Harga nasional cabai rawit sekarang, itu artinya apa? Artinya, modal kulakan kamu minggu ini lebih berat dibanding pekan lalu. Itu artinya, margin kamu bisa terjepit kalau jual dengan harga lama. Yang paling penting: ini sinyal buat kamu waspada sama stok dan harga jual.
Bukan cuma soal gagal panen karena musim kemarau yang diberitain di media. Mekanismenya ke kamu yang jualan itu begini: kalau pasokan dari petani seret, harga di tingkat grosir atau pasar induk langsung naik. Kamu yang kulakan dari sana pasti kena dampaknya. Lalu, ongkos kirim barang dari daerah penghasil juga berpengaruh. Belum lagi kalau ada kenaikan di tingkat kebijakan atau pungutan yang bikin biaya logistik tambah mahal. Pola harganya memang gitu, kadang melonjak dalam waktu singkat.
Lihat harga di kotamu hari ini. Bandingin sama angka nasional. Kalau harga di tempatmu sekarang lebih rendah dari angka nasional, itu bisa jadi sinyal buat kamu kulakan atau nambah stok. Tapi ingat, ini cuma sinyal dari perbandingan harga hari ini, bukan jaminan. Sebaliknya, kalau harga di kotamu sekarang sudah di atas angka nasional, kamu perlu hati-hati. Mending tahan dulu belinya, atau cari info kulakan dari daerah lain yang harganya mungkin lebih bersaing. Prinsipnya: baca angka hari ini, jangan nebak-nebak arah harga besok.
Kalau kamu mau kulakan dalam jumlah banyak atau mau jadi pengepul, arahin mata ke provinsi yang harganya jauh lebih rendah. Info terbaru menunjukkan ada daerah yang harganya jauh di bawah nasional. Ini peluang buat kamu yang punya akses jaringan antardaerah. Tapi, hitung juga ongkos kirim dan risiko barang di perjalanan. Kadang, kulakan dari daerah tetangga yang harganya sedang rendah bisa bikin modal kamu lebih ringan.
Pertama, pantau harga harian. Jangan cuma andal harga kemarin. Kedua, jangan nekat over-stok barang yang cepat busuk kayak cabai rawit. Ambil secukupnya, yang pasti laku dalam waktu singkat. Ketiga, atur margin dengan wajar. Naikin harga jual perlahan mengikuti kenaikan modal, tapi jangan sekaligus besar biar pelanggan enggak kaget dan kabur. Ambil untung yang cukup untuk nutup risiko, sambil jaga kepercayaan pelanggan warung kamu.
Harga gerak tiap hari dan beda tiap daerah — selisih sedikit bisa jadi untung-rugi buat yang jualan. Cek harga cabai rawit hari ini per provinsi: kalau di daerahmu di bawah rata-rata nasional, itu sinyal kulakan. Bandingkan harga antar kota buat cari stok termurah, atau pantau pasar induk.
Pemberitaan media nasional yang kami rujuk untuk konteks di atas (tautan via Google Berita):
Biasanya pagi-pagi sekali saat pasar baru buka, atau jelang sore saat pedagang mau tutup dan ingin menjual sisa stoknya.
Langsung dari sentra produksi seperti di Jawa Tengah atau Jawa Timur, biasanya lebih murah daripada kota besar yang hanya jadi pasar konsumsi.
Beli saat harga turun dan tahan stok sedikit, lalu jual saat pasokan langka. Jangan lupa sortir cabai bagus dan jelek untuk harga berbeda.
Perbedaan ongkir dari sentra panen, ketersediaan stok lokal, dan biaya distribusi ke daerah terpencil membuat harganya tidak seragam.
Harga biasanya naik jika ada berita cuaca buruk di sentra panen atau lebaran. Turun jika musim panen raya tiba dan pasokan melimpah.
Pantau info dari pasar induk via grup WhatsApp pedagang, cek situs harga pangan pemerintah, dan tanya langsung ke suplier atau tengkulak.